Assalamualaikum wr wb.
Setalah kelewat beberapa lama, akhirnya nulis juga. Hari ini
saya akan menulis tentang kabar semuanya dari awal tahun sampai penghujung
tahun 2015 ini.
Januari 2015,
Saya masih sibuk untuk berkutat di skripsi
saya. Hahaha sudah hampir kelewat setahun, tapi bayang-bayang skripsi masih ada
dan masih terbayang jelas. Apalagi kalau ada janji bimbingan.
Dari yang susah
banget kejar dosen, sampai nunggu dosen berjam-jam, dan masa bimbingan itu
hanya ngga lebih dari 5 menit. Kalaunya lagi waktu luang dosen saya, bimbingan
setengah jam rasanya bimbingan 3 jam. Lamanya waktu berputar kalau lagi
bimbingan yang mana dosennya sangatlah detail untuk ngoreksi skripsi saya.
Belum lagi kalau ngga cocok saya pemikiran beliau, marah dan makiannya menusuk sampai
jantung hati yang paling dalam. Hahaha (lebay dikit ngga papa ya? Kejadian yang
indah untuk dikenang dan tidak untuk diulang).
Februari 2015,
Setelah kurang lebih 3-4 bulan saya menyusun
skripsi akhirnya pada bulan inilah dibuka pendaftaran “sidang pendadaran” atau
“sidang skripsi” atau “sidang kelulusan S1”.
Kalau tidak salah saat itu
pendaftaran dibuka dari tanggal 1-12 Februari, tapi sampai 10 pun skripsi saya
masih dicoret-coret dengan koreksian yang sungguh luar biasa banyaknya. Sudah
ACC sampai Bab IV, tetapi pada hari itu beliau rombak lagi dari Bab II. Adakah
yang lebih gila dari ini? Dari sini terlintas dibenak saya, “Apakah bisa ikut
pendaftaran yang sekarang?” ACC pun tidak kunjung datang, sementara Skripsi
Warrior sudah saya lakukan secara super intensif. Bagaimana tidak, hampir
setiap hari saya harus ketemu dosen pembimbing saya. Setelah bimbingan, revisi,
bimbingan lagi, dicoret-coret lagi, revisi lagi, bimbingan lagi, nangis lagi, gila lagi,
gila lagi, gila lagi.
Akhirnya di tanggal 11 harapan terakhir saya, saya datangi
dosen pembimbing saya tanpa adanya meminta belas kasihan. Karena jika memang
target saya meleset, saya pasrah dan ikhlas mungkin belum waktunya saya sidang.
Tapi ternyata, setelah saya revisi sedemikian rupa Bab II tersebut, saat saya
datangi beliaunya, tanpa dilihatnya sedetikpun, beliau langsung tanda tangan di
ACC untuk sidang pendadaran. Ya Allah, ada keajaiban apakah ini yang turun dari
langit? Malaikat apa yang merasuki dosen pembimbing saya yang paling ganteng
dan paling saibuk sejagat hiburan tanah air? Hahahaha bay lebay lebay lebayyyy
....
Pada saat itu, sudah jam 14.00. Sementara banyak yang harus
saya lakukan untuk memenuhi syarat sidang, salah satunya mengopy 3 eksemplar
skripsi saya dengan cover yang telah ditentukan.
Rencana memang hari ini kalau
dapat ACC saya langsung daftarkan. Rupanya sudah menginjak waktu 14.30, dimana
TU (loket akademik) kampus saya sudah tutup. Yasudah, hari terakhir masih
besok. Saya selesaikan syarat-syarat tersebut dihari ini. Sampai malam pun saya
lakukan.
Keesokan pagi, tanggal 12 Februari 2015 jam 8.00 saya datang
ke kampus, dan dimana TU / administrasi / akademik belum buka. (Mungkin saya
terlalu semangat). Setelah buka, langsung saya daftarkan semuanya.
Alhamdulillah, saya masih mendapat nomor antrian di pendaftaran sidang yang
dilakukan pada bulan Maret, dan rencana wisuda pada bulan April. Alhamdulillah,
one step closer...
Maret 2015,
Bulan penuh ketegangan, ketakutan, rasa
deg-degan, rasa senang, rasa terkekang, segala macam rasa ada disini. Kecuali
rasa jeruk, lemon, atau apel, ngga ada. (Lah?) Jadwal sidang pun keluar, ujian
sidang kalau tidak salah dimulai pada tanggal 10 sampai dengan tanggal 15 Maret
2015.
Dan jadwal sidang atas nama INDRIANA RACHMADEWI RAHIM dengan jurusan
HUKUM PERDATA ada pada tanggal 13 Maret 2015. Selamat!
Tanggal 13 Maret 2015 pun datang, tiga dosen penguji telah siap
mendadar saya tanpa garam ataupun merica. (Sudah abaikan).
Dosen 1 masuk, mencerca saya. Tapi saya sedikit santai,
karena dosen ini merupakan dosen favorit saya. Disamping beliau enak kalau
mengajar, beliau juga orang yang baik dan humoris di dalam kelas. Sehingga mata
kuliah yang beliau ampu mudah dicerna dan dimengerti. Tapi tetap saja,
perbedaan dosen saat mengajar dan dosen saat menguji seperti bumi dan langit,
atau bisa jadi saat mengajar beliau terlihat seperti malaikat penunggu surga (baik, sabar, penuh kenyamana) tapi saat menguji beliau seperti jelangkung
jelangkung disini ada pesta. Tapi Alhamdulillah, lancar.
Saatnya presentasi di depan dosen 2, nah dosen penguji ini
baik sih. Saya tidak terlalu banyak mengambil mata kuliah beliau, tetapi
sedikit banyak tahu garis besar karakter beliau. Disini beliau mengasah tentang
ke-Islam-an dalam penelitian saya. Yang saya ingat dan paling saya ingat, hanya
pertanyaan yang sebenarnya jawabannya hanya “MUBAH” tapi saking bingungnya
saya, akhirnya saya muter-muter penjelasan saya.
Sebenarnya “muter-muter”nya
saya itu ya “Mubah” dalam arti “njelimet” hahaha. Langsung beliau skak-mat
saya,
“Jadi apa hukumnya?”
Saya jawab, “Boleh”. Yang gini bukan jawaban anak
hukum, “Boleh” hahaha.
Beliau memancing, “Mu...”
dengan lantang dan sigap saya
jawab. “MUBAH” pak... maksud saya daritadi hukumnya mubah pakk.”
Demikian,
alhamulillah semoga lancar-lancar saja.
JEENG-JEENG!!! Saatnya beralih pada dosen penguji sekaligun
dosen pembimbing sekaligus dosen terganteng sekaligus dosen tersibuk sekaligus
dosen artis sekaligus kepiting (Asparagus kali ah).
Dari ketiga dosen penguji saya, jujur dua dosen terdahulu
saya hadapi dengan lebih santai dan lebih tidak tegang. Karena setiap harinya
mental saya telah dijatuh bangunkan sama dosen pembimbing saya, mental saya
dihancurkan, dibom atom, hahaha. Tapi inilah hasilnya. Lebih tenang, karena
yang yang ini yang paling saya takutkan.
Benar saja, dosen penguji yang terakhir yang notabene
menjadi ayah eh dosen pembimbing saya malah menghancurkan saya
sehancur-hancurnya. Sampai saya mau nangis untuk menjawab pertanyaannya. Paling
lama durasinya daripada yang lain. Apa beliau punya dendam kesumat?
Hahaha.
Tapi Alhamdulillah puji syukur Allah, semua lancar.
Tapi diujung ujian sidang skripsi ini, (dosen penguji 3 /
dosen pembimbing saya) yang akan membacakan pengumuman lulus atau tidak
lulusnya mahasiswa yang sidang hari ini. Dan sebelum saya keluar dari ruangan
tadi (pada saat sidang), beliau bicara,
“Kamu lulus atau tidak lulus, kamu
harus belajar lagi”
Mahasiswa mana yang tidak gila mendengar kata-kata itu?
Disamping saya agak kesulitan untuk menjawab pertanyaannya. Keluar ruangan,
saya pucat pasi, mata berkaca-kaca (kalau kata orang Jawa sih, mbrebes mili).
Ditanya teman-teman yang setia menunggu saya,
“Gimana ndri, gimana ndri?” Saya
hanya diam dan hampir menangis.
Pengumuman pun dibacakan, ada kata-kata yang keluar dari
bibir dosen saya,
“Yang namanya ujian lulus atau ngga lulus itu adalah hal yang
biasa.” Saya sebentar lagi pingsan. “Kalau lulus, kembangkan terus ilmunya dan
jangan sombong, jangan juga membuat selebrasi berlebihan sehingga melukai hati
yang tidak lulus.” Sambil bicara dua kata terakhir, mata beliau melihat saya.
Dan sepertinya saya sudah keringat dingin. Dibacakanlah semua peserta beserta
nilai dan statusnya. Dan saya, disebutkan yang paling akhir (padahal saya ujian
nomor urut 1), yang dibaca pertama nomor urut 2 dan seterusnya. NOMOR GUE
MANAAAA?! Yak, bisa dibilang saya saat itu tidak punya tulang, semua tulangnya
rontok. Dan sudah siap-siap untuk pingsan. Pada akhirnya nama, nomor, nilai, dan status
saya dibacakan. Daaaaan Alhamdulillah untuk yang kesekian kalinya segala puji bagi
Allah Tuhan semesta alam, INDRIANA RACHMADEWI RAHIM dengan NOMOR URUT 1, NILAI
(rahasiaaa), dinyatakan LULUS!
(ALLAHUAKBAR, ALLAH MAHA BESAR, SEGALA PUJI BAGI
ALLAH TUHAN SEMESTA ALAM! LAAHAULAAWALAAKUWATAILLAHBILLAH!!!)
Orang yang pertama kali saya kabarkan adalah ibu saya.
Alhamdulillah!
Indriana Rachmadewi Rahim, SH (Sarjana Hukum)
Teman yang setia menunggu saya selama sidang
(Fani - Saya - Annisa - Waode)
Bunga dan skripsi 'kumel' (untuk bahan saya belajar) yang sedemikian tanda apalah itu haha.
April 2015,
17 April saya ulang tahun. (Ngga penting).
Moment berkesan adalah tanggal 25 April 2015 merupakan hari pemindahan tali
pada topi toga,
WISUDA.
Tapi moment yang seharusnya berkesan, tidak sepenuhnya
berkesan. Seharusnya moment ini bisa dihadiri kedua orang tua saya (Bapak dan
Ibu) saya yang selama ini telah mensupport, membiayai, mendoakan, dan lain
sebagainya untuk kesuksesan saya, salah satunya berakhirnya masa pendidikan Sarjana ini. Tapi apalah boleh buat, angan-angan dan keinginan semu
yang tidak akan terjadi. Meskipun hanya ibu saya yang menyaksikan putrinya
dipindahkan tali topi toga dan diberikan ijazah S1 beserta piagam penghargaan
dengan wisudawan berpredikat cumlaude. Seharusnya ayah saya bisa ikut bersama
ibu saya untuk melihat dan menyaksikan, dimana nama lengkap putrinya disebutkan, indes prestasinya, beserta nama beliau disebutkan. Tapi tak apalah.
IJAZAH DAN PIAGAM PENGHARGAAN DENGAN PRIDIKAT CUMLAUDE
Keadaan yang membuat mengapa ayah saya tidak bisa datang
menghadiri wisuda saya, adalah karena ayah saya sakit. Gula dan darah tinggi
yang merajalela, sehingga membuat penyakit-penyakit baru yang seharusnya beliau
tidak memilikinya. Dari dua penyakit itu menjalar pada jantung koroner, yang
secara perlahan mengenai syaraf otaknya :’(
Doa saya saat itu, hanyalah “Ya Allah,sembuhkan ayah saya,
normalkanlah kembali ayah saya. Berikan umur panjang yang bermanfaat, dan
angkatlah segala penyakit yang ada dalam tubuhnya”. Just it, my pray for my
beloved daddy.
Lepas dari keadaan ayahku, moment wisuda itu akhirnya
dihadirkan oleh saudara sepupu saya, Intan, untuk mendampingi ibu saya. Karena
kebetulan abang saya sedang ada tugas di luar pulau, sehingga untuk
menggantikan posisi ayah saya, dia tidak bisa. Tidak apalah, semua pasti sudah
diatur Allah.
(Saya - Ibu - Intan)
Mei 2015,
Sudah berakhir masa perkuliahan. Status mahasiswa
pun tidak lagi melekat pada diri saya. Sekarang status saya apa? Mahasiswa
bukan, karyawan juga bukan, single? Haha YES. Dalam bulan ini saya berkutat
dalam dunia internet, untuk informasi pekerjaan dan apply-apply ke seluruh
perusahaan yang sekiranya membuka lowongan.
Juni 2015,
Masih dengan status yang sama. Job seeker.
Wajah-wajah job seeker, beserta wajah yang terlihat santai, selengek-an, tapi hatinya galau, resah, dan gelisah. Belum dapat pasangan maupun pekerjaan HAHAHAHA
Juli 2015,
Lebaran. Status saya masih sama. Single.
HAHAHAHA. Masih jadi pengacara (Pengangguran Banyak Acara).
Ada suatu moment,
dimana saudara (agak) jauh membagikan THR untuk anak-anak yang notabene belum
memiliki gaji sendiri. Nah, biasanya beliau membagikan THR dengan nilai yang
berbeda.
Misalnya,
SD Rp50.000,
SMP Rp100.000,
SMA Rp150.000,
Kuliah Rp200.000,
kerja sudah tidak dapat.
Bisa dibayangkan? Posisi saya apa?
Kuliah tidak, kerja belum.
Disitu rasanya saya ingin menabrakan diri ke sepeda ontel yang lewat.
(berhubung desa). Mana dipanggilin lagi, jadi semua mata tertuju pada pemberian
tersebut. Saya hanya berdoa dalam hati,
“Oh Tuhan, tahun depan nggak boleh ada
situasi macam ini. Berikan hamba pekerjaan yang baik ya Allah...” Moment
ter-nggak-banget 2015. Sedihnya sampai ubun-ubun.
Agustus 2015,
Awal Agustus ini abang saya melakukan acara
lamaran. Dia akan melamar kekasih hatinya, (tjiee). Dan disinilah, banyak
mulut-mulut mengeluarkan kata tanpa rasa berdosa terdengar ke telinga saya,
“Indra udah mau ngelamar pacarnya, INDRI KAPAN DILAMAR?”.
Sungguh mulut-mulut tak berdosa yang tidak
memikirkan hati yang ditanya. Kalau saya tahu jawabannya, tidak perlu ditanya,
saya sudah langsung sebar berita, bahkan undangan.
Sebenarnya apa maksud dari
pertanyaan “Kapan lulus?” untuk yang belum lulus. “Kapan nikah?” untuk yang
masih single. Dan “Kapan punya anak” untuk yang sudah menikah tetapi belum
dikaruniai anak. ~~~~~~~
Mari kita tanya niat di hati masing-masing, tujuan bertanya
“Kapan wisuda? Kapan nikah? Kapan punya anak?” Itu apa sih?
Iseng? Kita tidak tahu keisengan kita yang manakah yang
ternyata diam-diam membuat hati teman atau seseorang sedih.
Memotivasi? Dari seluruh cara memotivasi yang agama tawarkan
dengan baik, kenapa memilih memotivasi lewat pertanyaan tanpa solusi?
Mengingatkan usia? Tahu apa kita tentang takdir usia
seseorang? Lagian sungguh bukan panjang pendeknya usia yang penting. Tapi
berkahnya.
Ditanyakan pertanyaan yang saya pun bingung menjawabnya.
So? Lebih baik doakan, jangan ditanyakan hehehehe ;) (tapi kalau sekali-sekali nggak ada salahnya juga)
Oiya, di bulan ini saya mendapat panggilan kerjaan di salah
satu kantor perbankan di Bandung. Setelah berbagai macam test saya lakukan,
hasil akhirnya “anda belum beruntung”. Tapi ya sudahlah, semua sudah diatur.
Untuk beberapa lama saya tinggal di Bandung, sembari juga untuk apply-apply
yang lain.
September, Oktober 2015,
Sepertinya bulan-bulan ini biasa
saja. Saya memiliki kegiatan magang, berhubung kerjaan belum ada
panggilan-panggilan lagi. Saat saya melamar untuk magang, diterima. Yasudah.
Dijalani dulu, lumayan tambah ilmu dan tambah pengalaman, untuk masalah gaji
rahasiaaa! Hahaha.
November 2015,
Kerinduan yang tidak biasa kepada ayahku. Belakangan
saya didatangi lewat mimpi. Jadi saya memutuskaan untuk pulang ke ayah saya. Ayah
saya yang dengan keadaan stabil tidak ada perubahan baik ataupun buruk. Dari
yang lalu-lalu hingga sekarang.
Tanggal 13 November. Saat saya sedang pulang ke ayah saya,
kebetulan teman ayah saya saat kuliah S2 datang dari Palembang ke rumah. Beliau
adalah pak Ustman. Sahabat ayah saya. Yang sebenarnya saya sendiri hampir tidak
mengenalinya. Karena terakhir ketemu beliau saat saya TK berumur sekitar 4 atau
5 tahun. Hampir 20 tahunan saya tidak pernah bertemu dengan beliau lagi.
Tapi ke-pangling-an
saya berubah saat dia bicara banyak tentang ayah saya dan menceritakan masa
kecil saya ya saya bisa nyambung dan ketawa-ketawa. Ayah saya yang sudah tidak
lagi bisa diajak komunikasi serius, hanya mendengarkan, kemudian menangis,
kemudian sedikit tersenyum, kemudian mendengarkan saja, meskipun sudah tidak
nyambung beliau tetap disana (duduk di ruang tamu). Hingga waktunya istirahat
(mungkin karena kelamaan duduk, beliau capek ingin rebahan) beliau kami
diantarkan ke kamar.
Saya tetap ngobrol dan bicara banyak dengan pak Ustman, saya
ceritakan semua kabar tentang ayah saya. Dimana beliau agak kaget kalau
ternyata ayah saya memiliki begitu banyak penyakit. Bisa dibilang komplikasi.
Dari awal beliau hanya tahu ayah saya memiliki asam urat, just it. Tapi
ternyata juga punya gula, katanya,
“Dulu bapakmu itu sehat banget lho” dan
beliau juga cerita, “Bapakmu itu pinter, sampai pas thesis dulu dosennya nggak
ngerti dan bapakmu lebih tahu. Makanya thesis bapakmu nilainya A, lah pak
Ustman Cuma dapat B hehehe. Orangnya baik, sabar, luar biasa pak Heri itu,
Ndri... Kalau sama Indri sayang sekali setengah mati. Sungguh... Kalau udah
tentang Indri sudahlah nggak ada yang nggak.”
Dengan logat Palembangnya.
MY
FATHER. HE IS THE BEST FATHER IN THE WORLD!!!
Aku kembali ke Jogja.
Oiya, saya ceritakan juga dua minggu setelah saya pulang dari
ayah saya, tepatnya tanggal 25 November lalu, ayah saya dikabarkan anfal dan
dibawa di Rumah Sakit.
Kebetulan saat itu abang saya masih di New Port, Amerika
untuk tugas. Jadi saya berangkat sendiri ke Surabaya langsung menuju Rumah
Sakit.
Sampai sana Subuh, sekitar jam 5an. Rumah sakit masih begitu sepi dan
hening. Masuklah saya ke kamar ayah saya. Beliau terbaring lemah, dan sangat
berbeda dari kondisi dua minggu terakhir saya lihat. Kondisi ayah saya yang tangannya
tertusuk infus dan selang masuk ke hidungnya. Saya salim, cium tangannya. Tak
kuasa menbendung air mata. Lalu yang menjaga ayah saya bertanya kepada ayah
saya,
“Pak Heri, ini siapa?”
Kata ayahku, “Mbuh”. (Mbuh dalam bahasa Jawa =
Tidak tahu).
Dari situ hati saya rasanya sakiiittt setengah mati, hancur
sehancur-hancurnya. Entah mengapa perasaan maklum saya saat itu tidak mau tahu
akan keadaan ayah saya dimana syaraf otaknya telah terganggu. Selupa-lupanya
beliau selama ini, tidak pernah tidak tahu saya. Seperti biasa, saya sering
bertanya tentang beliau pribadi, guna untuk merefresh dan menterapi ingatannya.
“Pak, aku siapa?”
“Mbuh...”
“Pak, aku indri”
Ayahku diam.
“Siapa pak Indri?”
“Mbuh...”
“Bapak namanya siapa? Bapak siapa?”
“Pak Heri”
“Heri siapa?”
“Heri Subagyo”
“Terus anaknya pak Heri siapa?”
“Mbuh”
“Indri bapak ngga kenal?”
“Nggak”
(Disini saya mulai nangis)
“Bapak anaknya berapa?”
“Mbuh...”
“Indra siapa pak?
“Mbuh...”
“Indri bapak juga ngga tahu?”
“Mbuh...”
“Anaknya bapak siapa?”
“Arien.” (Arien adalah anak yang merawat ayah saya.)
Dari sini saya sudah stop untuk bertanya.
Karena saya rasa
untuk apa. Mungkin karena kami berdua tidak pernah langsung merawat ayah kami.
Jadi yang beliau ingat hanya yang merawat beliau. Wajar sih, bisa diterima. Tapi
tetap saja sakit hati ini tidak terbendung lagi. Tapi saya terus menyuruhnya
untuk berzikir dalam hatinya. Meskipun sudah tidak lagi ingat apa-apa, bahkan
saya ataupun abang saya, yang notabene itu adalah anak kandungnya. Tapi semoga
beliau terus menyebut nama ALLAH dalam hatinya.
Saat itu saya bawa perasaan, hati saya sakit. Padahal jelas
ayah saya terganggu syaraf otaknya. Tapi kala itu saya tidak bisa menerimanya.
Situasi dan kondisi disana sama sekali tidak ada yang mendukung saya ada
disana. Keluarga yang menjaga ayahku bertatapan tidak bersahabat, dan seseorang
yang saya tuju dan yang seharusnya membuat saya bertahan disana pun tidak
mengenali saya. Lalu untuk apa saya disana?
Saya bertanya pada dokternya, (spesialis penyakit dalam,
jantung, dan syaraf) dan ternyata ginjal ayah saya yang tadinya baik-baik saja
sekarang ikut terserang. Kini penyakit ayah saya gula, tensi tinggi, jantung,
syaraf, dan ginjal.
Saat yang menjaga ayah saya pergi, tinggal saya dan ayah
saya di kamar. Dengan keadaan terbaring dan saya duduk disebelahnya, keluarlah
semua "uneg-uneg" dan segala macam perasaan yang selama ini tertahan dalam hati
saya, saya keluarkan semua.
Seolah saya bicara dengan ayah saya yang dulu, yang
masih sangat sangat sehat, yang selalu memberi saya solusi disetiap langkah
masalah yang saya miliki. Yang setia mendengarkan segala keluh kesah, lara dan
bahagia.
Saya bicara sambil menangis, seolah saya menyalahkan keadaan. Karena
ini adalah resiko dari pilihan.
Nangis terus, nangis, dan menangis. Dari semua
itu, ayahku tanpa ada reaksi apapun. Bahkan ada satu pembicaraan yang sampai sekarang hanya saya dan ayah saya saja yang tahu. Kalau pada akhirnya pembicaraan itu benar terjadi secara nyata (amiin), kala itu ada malaikat yang mengamini. (Kita lihat nanti, suatu saat akan terungkap, apa pembicaraan itu?). Obrolan itu TRUE or FALSE? Jawabannya ada sama waktu.
Dari saya SMP
hingga saya pisah dengan ayah saya dan beliau mulai sakit, saya selalu bercerita apapun dan siapapun yang
sedang saya rasakan, atau sedang suka siapa, dan lain-lain.
(Ada tulisan di blog ini beberapa waktu silam, tentang sebuah cerita kedekatan anak perempuan dan ayah kesayangannya : Aku rindu Ayahku )
Setelah rasanya semua tersampaikan, yang menjaga ayahku
datang. Cepat saya usap air mata, dan sok tegar untuk beralih ke tempat tidur
penunggu. Tidak lama, dia menghampiri ayahku, dan bicara,
“Pak Heri kok nangis?
Pak Heri kenapa?”
Dari situ saya langsung sigap melihat, benarkah ayahku
menagis? IYA.
Yang menjaga bertanya, “Pak Heri kenapa dek? Kok nangis?”
Saya jawab, “Nggak tahu”
Baru saya berpikir, jadi apakah selama tadi saya bicara
sebenarnya ayah saya mengerti. Tapi beliau tidak bisa membuat respon apa-apa?
Apakah demikian?
Apapun itu, aku tetap mencintai ayahku dengan caraku.
Saya harus kembali ke Jogja. Dan sekiranya ayah saya membaik, dan kata dokter besok
bisa boleh pulang. Dan sekarang sudah bisa ditinggal.
Desember 2015,
Akhir tahun, penutup tahun yang seandainya
bisa diubah, saya tidak mau ada bulan ini di tahun ini.
Mengapa?
Ayahku pergi
untuk selamanya.
Berawal pada tanggal 7 Desember, saya pergi sama teman saya.
Saat itu kami ada voucher gratis karaokean satu jam. Dan saat itu, blackberry (BB) saya
biasa saja tidak ada kerusakan atau ngadat sama sekali. Sebelum saya pergi,
saya charge BB saya. Biasa, tidak ada masalah. Sehingga saya bawa pergi dengan
keadaan baik-baik saja. Ternyata sampai di tempat karaokean, saya keluarkan BB
dan ternyata BB saya rusak seketika. LCD nya pecah. Saya coba cabut pasang
battrai nya tetap saja layarnya nyala tapi hancur. Ada gambar pecahnya. Fix ini
kena LCD nya.
Kalau sudah begini mau diapain pasti tidak bisa. Bahkan katanya
biaya servis dengan beli baru hampir sama. (Mungkin ini awal tapi agak kurang
nyambung sama pembahasan yang mau saya ceritakan) BB onyx 1 hitam kesayangan
saya, favorit, dan hadiah pemberian dari ayah saya di tahun 2010 lalu. Sampai
saat ini, BB itu hanya pernah rusak sekali, itupun karena memori dan suka
nge-jam. Tapi dengan mudah bisa diperbaiki. Sisanya tidak pernah. Berkali-kali
banyak yang suruh jual, untuk ganti hp baru entah android atau apapun, saya
tetap tidak mau. Karena hanya itu alasannya. Pemberian ayah, dengan berbagai
syarat hehehe. Faktor kenangan.
Tanggal 12 Desember 2015, saya dan ibu saya pergi ke
Surabaya untuk menjenguk ayah saya. Yang dikabarkan ayah saya KRITIS. Dan
dibawa ke Rumah Sakit. Malam saya berangkat dari Jogja ke Surabaya.
Tanggal 13 Desember 2015, sampai Surabaya jam 4 pagi.
Dijemput oleh abang saya, yang datang duluan dari jam 12 malam langsung Rumah
Sakit. Kebetulan abang saya sudah pulang dari Amerika tanggal 7,
laporan-laporan di Jakarta selesai sekitar tanggal 12, langsung terbang ke
Surabaya untuk ayahku.
Ketika langit mulai terang, kami bertiga (saya, abangku, dan
ibuku) ke ruangan ayahku. Ayahku sudah berada di ruangan ICU. Jam 5 sampai jam
6 kami masih tidak diperbolehkan masuk. Hingga sekitar jam 7an barulah petugas
memanggil “Keluarga Bapak Heri”. Saya dan abang saya, langsung berdiri. Dan
abang saya menyuruh ibu saya untuk menjenguk bersama dengan saya, karena
malamnya dia sudah bertemu dulu dengan ayah saya. (Ruang ICU hanya bisa dimasukki
dua orang saja). Saat ibu saya masuk, tiba-tiba si penjaga ayahku ikutan masuk.
Jadi pas saya mau masuk, saya disuruh keluar oleh petugas.
Sebelumnya abang saya bilang, “dek, kamu harus ikhlas apapun
yang terjadi. Bisikkan ke telinga bapak, kamu ikhlas. Ya?”
Saya hanya diam.
Akhirnya dia (si penjaga ayahku) sedikit tahu diri, keluar.
Dan menyuruh aku masuk. Di ruangan, hanya ada ayah saya. Ibu, dan saya.
Kondisi ayahku selang dimana-mana, infus, oksigen, dan lain
sebagainya.
Disitu saya menangiiiiiiis, disuruh ngebisik, saya nggak
kuat. Hanya ada tangisan. Saat ibu saya yang bicara, saya menguatkan diri saya.
Untuk bisa bicara. Dan saya bicara bahwa :
“Saya bangga punya ayah seperti bapak. Bapak adalah ayah
terbaik yang pernah ada. Bapak harus ikhlas apapun yang terjadi, bapak harus
sabar, bapak percaya sama Allah kalau ketentuan Allah pasti yang terbaik. Maafkan
segala kesalahan Indri seumur hidup Indri. Maaf Indri nggak bisa merawat bapak
secara langsung. Tapi indri selalu mendoakan bapak. Pak, indri
ikhlas kalau memang ini ketentuan Allah. Kita harus percaya sama Allah.” Dan
terakhir saya bicara, “kalau bapak harus pergi, Indri ikhlas.”
Tidak lama dari itu, abang saya masuk. Entah kenapa dia
tidak disuruh keluar petugas karena lebih dari dua orang. Dan kita berempat
berkumpul lengkap untuk sekian lamanya kita tidak pernah berkumpul. (Bapak,
Ibu, Mas Indra, Dek Indri).
“Pak, kita sekarang kumpul berempat. Inilah keluarga bapak. Keluarga kecil bapak. Semua sayang sama bapak. Maafkan kesalahan kami, dan kesalahan bapak apapun sudah kami maafkan.”
Kondisi bapak makin memburuk. Dan malamnya, pukul 20.00 bapak Ir. H. Heri Subagyo, MBA pulang ke Rahmatullah... Innalillahiwainnaillaihirojiun...
This is my family. I found it, all on my own. It's little, and broken, but still good.
Yes, still very good.
Selamat jalan bapak, ILOVEYOUSOMUCH! Goodbye super dad! Sampai ketemu, kita kumpul lagi di Surga Allah, Amiin.... Ya Allah, jagalah ayahku, ampuni segala kesalahannya, dan terimalah segala amal baiknya, dan
berilah dia tempat terbaik di sisiMu, amiinn ....
Lalu apa hubungan ini dengan LCD BB kesayangan (sekaligus hadiah
pemberian ayah saya) pecah? Biasa, namanya juga orang Jawa sukanya
“nggathuk-nggathuk-e”. LCD saya pecah, ginjal ayah saya pecah. Saat tidak lagi
bisa diperbaiki, ayah saya juga tidak lagi bisa diobati.
Inilah penutup tahun 2015. Yang luar biasa, dimana Allah
sudah merindukan dan memanggil Ayahku untuk menghadapNya.
"Karena detik yang berlalu akan menjadi kenangan, jangan pernah meremehkan kebersamaan. Sebelum waktu mengajarimu arti sebuah kehilangan dan kamu hanya bisa menyalahkan keadaan." -INDRIANA-
Goodbye 2015,
Goodbye super father, see you until we meet again in heaven.
I'll be miss you, dad!
IR ;)













