Laman

Sabtu, 26 Desember 2015

All about my 2015

Assalamualaikum wr wb.

Setalah kelewat beberapa lama, akhirnya nulis juga. Hari ini saya akan menulis tentang kabar semuanya dari awal tahun sampai penghujung tahun 2015 ini.

Januari 2015, 
Saya masih sibuk untuk berkutat di skripsi saya. Hahaha sudah hampir kelewat setahun, tapi bayang-bayang skripsi masih ada dan masih terbayang jelas. Apalagi kalau ada janji bimbingan. 


Dari yang susah banget kejar dosen, sampai nunggu dosen berjam-jam, dan masa bimbingan itu hanya ngga lebih dari 5 menit. Kalaunya lagi waktu luang dosen saya, bimbingan setengah jam rasanya bimbingan 3 jam. Lamanya waktu berputar kalau lagi bimbingan yang mana dosennya sangatlah detail untuk ngoreksi skripsi saya. Belum lagi kalau ngga cocok saya pemikiran beliau, marah dan makiannya menusuk sampai jantung hati yang paling dalam. Hahaha (lebay dikit ngga papa ya? Kejadian yang indah untuk dikenang dan tidak untuk diulang).

Februari 2015, 
Setelah kurang lebih 3-4 bulan saya menyusun skripsi akhirnya pada bulan inilah dibuka pendaftaran “sidang pendadaran” atau “sidang skripsi” atau “sidang kelulusan S1”. 

Kalau tidak salah saat itu pendaftaran dibuka dari tanggal 1-12 Februari, tapi sampai 10 pun skripsi saya masih dicoret-coret dengan koreksian yang sungguh luar biasa banyaknya. Sudah ACC sampai Bab IV, tetapi pada hari itu beliau rombak lagi dari Bab II. Adakah yang lebih gila dari ini? Dari sini terlintas dibenak saya, “Apakah bisa ikut pendaftaran yang sekarang?” ACC pun tidak kunjung datang, sementara Skripsi Warrior sudah saya lakukan secara super intensif. Bagaimana tidak, hampir setiap hari saya harus ketemu dosen pembimbing saya. Setelah bimbingan, revisi, bimbingan lagi, dicoret-coret lagi, revisi lagi, bimbingan lagi, nangis lagi, gila lagi, gila lagi, gila lagi.

Akhirnya di tanggal 11 harapan terakhir saya, saya datangi dosen pembimbing saya tanpa adanya meminta belas kasihan. Karena jika memang target saya meleset, saya pasrah dan ikhlas mungkin belum waktunya saya sidang. Tapi ternyata, setelah saya revisi sedemikian rupa Bab II tersebut, saat saya datangi beliaunya, tanpa dilihatnya sedetikpun, beliau langsung tanda tangan di ACC untuk sidang pendadaran. Ya Allah, ada keajaiban apakah ini yang turun dari langit? Malaikat apa yang merasuki dosen pembimbing saya yang paling ganteng dan paling saibuk sejagat hiburan tanah air? Hahahaha bay lebay lebay lebayyyy ....

Pada saat itu, sudah jam 14.00. Sementara banyak yang harus saya lakukan untuk memenuhi syarat sidang, salah satunya mengopy 3 eksemplar skripsi saya dengan cover yang telah ditentukan. 

Rencana memang hari ini kalau dapat ACC saya langsung daftarkan. Rupanya sudah menginjak waktu 14.30, dimana TU (loket akademik) kampus saya sudah tutup. Yasudah, hari terakhir masih besok. Saya selesaikan syarat-syarat tersebut dihari ini. Sampai malam pun saya lakukan.


Keesokan pagi, tanggal 12 Februari 2015 jam 8.00 saya datang ke kampus, dan dimana TU / administrasi / akademik belum buka. (Mungkin saya terlalu semangat). Setelah buka, langsung saya daftarkan semuanya. Alhamdulillah, saya masih mendapat nomor antrian di pendaftaran sidang yang dilakukan pada bulan Maret, dan rencana wisuda pada bulan April. Alhamdulillah, one step closer...

Maret 2015, 
Bulan penuh ketegangan, ketakutan, rasa deg-degan, rasa senang, rasa terkekang, segala macam rasa ada disini. Kecuali rasa jeruk, lemon, atau apel, ngga ada. (Lah?) Jadwal sidang pun keluar, ujian sidang kalau tidak salah dimulai pada tanggal 10 sampai dengan tanggal 15 Maret 2015. 

Dan jadwal sidang atas nama INDRIANA RACHMADEWI RAHIM dengan jurusan HUKUM PERDATA ada pada tanggal 13 Maret 2015. Selamat!



Tanggal 13 Maret 2015 pun datang, tiga dosen penguji telah siap mendadar saya tanpa garam ataupun merica. (Sudah abaikan).

Dosen 1 masuk, mencerca saya. Tapi saya sedikit santai, karena dosen ini merupakan dosen favorit saya. Disamping beliau enak kalau mengajar, beliau juga orang yang baik dan humoris di dalam kelas. Sehingga mata kuliah yang beliau ampu mudah dicerna dan dimengerti. Tapi tetap saja, perbedaan dosen saat mengajar dan dosen saat menguji seperti bumi dan langit, atau bisa jadi saat mengajar beliau terlihat seperti malaikat penunggu surga (baik, sabar, penuh kenyamana) tapi saat menguji beliau seperti jelangkung jelangkung disini ada pesta. Tapi Alhamdulillah, lancar.

Saatnya presentasi di depan dosen 2, nah dosen penguji ini baik sih. Saya tidak terlalu banyak mengambil mata kuliah beliau, tetapi sedikit banyak tahu garis besar karakter beliau. Disini beliau mengasah tentang ke-Islam-an dalam penelitian saya. Yang saya ingat dan paling saya ingat, hanya pertanyaan yang sebenarnya jawabannya hanya “MUBAH” tapi saking bingungnya saya, akhirnya saya muter-muter penjelasan saya. 

Sebenarnya “muter-muter”nya saya itu ya “Mubah” dalam arti “njelimet” hahaha. Langsung beliau skak-mat saya, 
“Jadi apa hukumnya?” 
Saya jawab, “Boleh”. Yang gini bukan jawaban anak hukum, “Boleh” hahaha. 
Beliau memancing, “Mu...” 
dengan lantang dan sigap saya jawab. “MUBAH” pak... maksud saya daritadi hukumnya mubah pakk.” 
Demikian, alhamulillah semoga lancar-lancar saja.

JEENG-JEENG!!! Saatnya beralih pada dosen penguji sekaligun dosen pembimbing sekaligus dosen terganteng sekaligus dosen tersibuk sekaligus dosen artis sekaligus kepiting (Asparagus kali ah).

Dari ketiga dosen penguji saya, jujur dua dosen terdahulu saya hadapi dengan lebih santai dan lebih tidak tegang. Karena setiap harinya mental saya telah dijatuh bangunkan sama dosen pembimbing saya, mental saya dihancurkan, dibom atom, hahaha. Tapi inilah hasilnya. Lebih tenang, karena yang yang ini yang paling saya takutkan. 

Benar saja, dosen penguji yang terakhir yang notabene menjadi ayah eh dosen pembimbing saya malah menghancurkan saya sehancur-hancurnya. Sampai saya mau nangis untuk menjawab pertanyaannya. Paling lama durasinya daripada yang lain. Apa beliau punya dendam kesumat? 
Hahaha. Tapi Alhamdulillah puji syukur Allah, semua lancar.

Tapi diujung ujian sidang skripsi ini, (dosen penguji 3 / dosen pembimbing saya) yang akan membacakan pengumuman lulus atau tidak lulusnya mahasiswa yang sidang hari ini. Dan sebelum saya keluar dari ruangan tadi (pada saat sidang), beliau bicara, 
“Kamu lulus atau tidak lulus, kamu harus belajar lagi” 
Mahasiswa mana yang tidak gila mendengar kata-kata itu? Disamping saya agak kesulitan untuk menjawab pertanyaannya. Keluar ruangan, saya pucat pasi, mata berkaca-kaca (kalau kata orang Jawa sih, mbrebes mili). Ditanya teman-teman yang setia menunggu saya, 
“Gimana ndri, gimana ndri?” Saya hanya diam dan hampir menangis.

Pengumuman pun dibacakan, ada kata-kata yang keluar dari bibir dosen saya, 
“Yang namanya ujian lulus atau ngga lulus itu adalah hal yang biasa.” Saya sebentar lagi pingsan. “Kalau lulus, kembangkan terus ilmunya dan jangan sombong, jangan juga membuat selebrasi berlebihan sehingga melukai hati yang tidak lulus.” Sambil bicara dua kata terakhir, mata beliau melihat saya. Dan sepertinya saya sudah keringat dingin. Dibacakanlah semua peserta beserta nilai dan statusnya. Dan saya, disebutkan yang paling akhir (padahal saya ujian nomor urut 1), yang dibaca pertama nomor urut 2 dan seterusnya. NOMOR GUE MANAAAA?! Yak, bisa dibilang saya saat itu tidak punya tulang, semua tulangnya rontok. Dan sudah siap-siap untuk pingsan. Pada akhirnya nama, nomor, nilai, dan status saya dibacakan. Daaaaan Alhamdulillah untuk yang kesekian kalinya segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam, INDRIANA RACHMADEWI RAHIM dengan NOMOR URUT 1, NILAI (rahasiaaa), dinyatakan LULUS! 
(ALLAHUAKBAR, ALLAH MAHA BESAR, SEGALA PUJI BAGI ALLAH TUHAN SEMESTA ALAM! LAAHAULAAWALAAKUWATAILLAHBILLAH!!!)

Orang yang pertama kali saya kabarkan adalah ibu saya. Alhamdulillah!

Indriana Rachmadewi Rahim, SH (Sarjana Hukum) 

Teman yang setia menunggu saya selama sidang
(Fani - Saya - Annisa - Waode)

Bunga dan skripsi 'kumel' (untuk bahan saya belajar) yang sedemikian tanda apalah itu haha.


April 2015, 
17 April saya ulang tahun. (Ngga penting). 
Moment berkesan adalah tanggal 25 April 2015 merupakan hari pemindahan tali pada topi toga,

WISUDA. 

Tapi moment yang seharusnya berkesan, tidak sepenuhnya berkesan. Seharusnya moment ini bisa dihadiri kedua orang tua saya (Bapak dan Ibu) saya yang selama ini telah mensupport, membiayai, mendoakan, dan lain sebagainya untuk kesuksesan saya, salah satunya berakhirnya masa pendidikan Sarjana ini. Tapi apalah boleh buat, angan-angan dan keinginan semu yang tidak akan terjadi. Meskipun hanya ibu saya yang menyaksikan putrinya dipindahkan tali topi toga dan diberikan ijazah S1 beserta piagam penghargaan dengan wisudawan berpredikat cumlaude. Seharusnya ayah saya bisa ikut bersama ibu saya untuk melihat dan menyaksikan, dimana nama lengkap putrinya disebutkan, indes prestasinya, beserta nama beliau disebutkan. Tapi tak apalah.

IJAZAH DAN PIAGAM PENGHARGAAN DENGAN PRIDIKAT CUMLAUDE

Keadaan yang membuat mengapa ayah saya tidak bisa datang menghadiri wisuda saya, adalah karena ayah saya sakit. Gula dan darah tinggi yang merajalela, sehingga membuat penyakit-penyakit baru yang seharusnya beliau tidak memilikinya. Dari dua penyakit itu menjalar pada jantung koroner, yang secara perlahan mengenai syaraf otaknya :’(

Doa saya saat itu, hanyalah “Ya Allah,sembuhkan ayah saya, normalkanlah kembali ayah saya. Berikan umur panjang yang bermanfaat, dan angkatlah segala penyakit yang ada dalam tubuhnya”. Just it, my pray for my beloved daddy.

Lepas dari keadaan ayahku, moment wisuda itu akhirnya dihadirkan oleh saudara sepupu saya, Intan, untuk mendampingi ibu saya. Karena kebetulan abang saya sedang ada tugas di luar pulau, sehingga untuk menggantikan posisi ayah saya, dia tidak bisa. Tidak apalah, semua pasti sudah diatur Allah.

(Saya - Ibu - Intan)

Mei 2015, 
Sudah berakhir masa perkuliahan. Status mahasiswa pun tidak lagi melekat pada diri saya. Sekarang status saya apa? Mahasiswa bukan, karyawan juga bukan, single? Haha YES. Dalam bulan ini saya berkutat dalam dunia internet, untuk informasi pekerjaan dan apply-apply ke seluruh perusahaan yang sekiranya membuka lowongan.

Juni 2015, 
Masih dengan status yang sama. Job seeker.

Wajah-wajah job seeker, beserta wajah yang terlihat santai, selengek-an, tapi hatinya galau, resah, dan gelisah. Belum dapat pasangan maupun pekerjaan HAHAHAHA

Juli 2015, 
Lebaran. Status saya masih sama. Single. HAHAHAHA. Masih jadi pengacara (Pengangguran Banyak Acara). 

Ada suatu moment, dimana saudara (agak) jauh membagikan THR untuk anak-anak yang notabene belum memiliki gaji sendiri. Nah, biasanya beliau membagikan THR dengan nilai yang berbeda. 

Misalnya, 
SD Rp50.000, 
SMP Rp100.000, 
SMA Rp150.000, 
Kuliah Rp200.000, 
kerja sudah tidak dapat. 

Bisa dibayangkan? Posisi saya apa?


Kuliah tidak, kerja belum. 

Disitu rasanya saya ingin menabrakan diri ke sepeda ontel yang lewat. (berhubung desa). Mana dipanggilin lagi, jadi semua mata tertuju pada pemberian tersebut. Saya hanya berdoa dalam hati, 

“Oh Tuhan, tahun depan nggak boleh ada situasi macam ini. Berikan hamba pekerjaan yang baik ya Allah...” Moment ter-nggak-banget 2015. Sedihnya sampai ubun-ubun. 

Agustus 2015, 
Awal Agustus ini abang saya melakukan acara lamaran. Dia akan melamar kekasih hatinya, (tjiee). Dan disinilah, banyak mulut-mulut mengeluarkan kata tanpa rasa berdosa terdengar ke telinga saya, 

“Indra udah mau ngelamar pacarnya, INDRI KAPAN DILAMAR?”.

Sungguh mulut-mulut tak berdosa yang tidak memikirkan hati yang ditanya. Kalau saya tahu jawabannya, tidak perlu ditanya, saya sudah langsung sebar berita, bahkan undangan. 

Sebenarnya apa maksud dari pertanyaan “Kapan lulus?” untuk yang belum lulus. “Kapan nikah?” untuk yang masih single. Dan “Kapan punya anak” untuk yang sudah menikah tetapi belum dikaruniai anak. ~~~~~~~

Mari kita tanya niat di hati masing-masing, tujuan bertanya “Kapan wisuda? Kapan nikah? Kapan punya anak?” Itu apa sih?

Iseng? Kita tidak tahu keisengan kita yang manakah yang ternyata diam-diam membuat hati teman atau seseorang sedih.

Memotivasi? Dari seluruh cara memotivasi yang agama tawarkan dengan baik, kenapa memilih memotivasi lewat pertanyaan tanpa solusi?

Mengingatkan usia? Tahu apa kita tentang takdir usia seseorang? Lagian sungguh bukan panjang pendeknya usia yang penting. Tapi berkahnya.

Ditanyakan pertanyaan yang saya pun bingung menjawabnya.

So? Lebih baik doakan, jangan ditanyakan hehehehe ;) (tapi kalau sekali-sekali nggak ada salahnya juga)

Oiya, di bulan ini saya mendapat panggilan kerjaan di salah satu kantor perbankan di Bandung. Setelah berbagai macam test saya lakukan, hasil akhirnya “anda belum beruntung”. Tapi ya sudahlah, semua sudah diatur. Untuk beberapa lama saya tinggal di Bandung, sembari juga untuk apply-apply yang lain.

September, Oktober 2015, 
Sepertinya bulan-bulan ini biasa saja. Saya memiliki kegiatan magang, berhubung kerjaan belum ada panggilan-panggilan lagi. Saat saya melamar untuk magang, diterima. Yasudah. Dijalani dulu, lumayan tambah ilmu dan tambah pengalaman, untuk masalah gaji rahasiaaa! Hahaha.

November 2015, 
Kerinduan yang tidak biasa kepada ayahku. Belakangan saya didatangi lewat mimpi. Jadi saya memutuskaan untuk pulang ke ayah saya. Ayah saya yang dengan keadaan stabil tidak ada perubahan baik ataupun buruk. Dari yang lalu-lalu hingga sekarang.

Tanggal 13 November. Saat saya sedang pulang ke ayah saya, kebetulan teman ayah saya saat kuliah S2 datang dari Palembang ke rumah. Beliau adalah pak Ustman. Sahabat ayah saya. Yang sebenarnya saya sendiri hampir tidak mengenalinya. Karena terakhir ketemu beliau saat saya TK berumur sekitar 4 atau 5 tahun. Hampir 20 tahunan saya tidak pernah bertemu dengan beliau lagi. 

Tapi ke-pangling-an saya berubah saat dia bicara banyak tentang ayah saya dan menceritakan masa kecil saya ya saya bisa nyambung dan ketawa-ketawa. Ayah saya yang sudah tidak lagi bisa diajak komunikasi serius, hanya mendengarkan, kemudian menangis, kemudian sedikit tersenyum, kemudian mendengarkan saja, meskipun sudah tidak nyambung beliau tetap disana (duduk di ruang tamu). Hingga waktunya istirahat (mungkin karena kelamaan duduk, beliau capek ingin rebahan) beliau kami diantarkan ke kamar.

Saya tetap ngobrol dan bicara banyak dengan pak Ustman, saya ceritakan semua kabar tentang ayah saya. Dimana beliau agak kaget kalau ternyata ayah saya memiliki begitu banyak penyakit. Bisa dibilang komplikasi. Dari awal beliau hanya tahu ayah saya memiliki asam urat, just it. Tapi ternyata juga punya gula, katanya, 

“Dulu bapakmu itu sehat banget lho” dan beliau juga cerita, “Bapakmu itu pinter, sampai pas thesis dulu dosennya nggak ngerti dan bapakmu lebih tahu. Makanya thesis bapakmu nilainya A, lah pak Ustman Cuma dapat B hehehe. Orangnya baik, sabar, luar biasa pak Heri itu, Ndri... Kalau sama Indri sayang sekali setengah mati. Sungguh... Kalau udah tentang Indri sudahlah nggak ada yang nggak.”
Dengan logat Palembangnya. 

MY FATHER. HE IS THE BEST FATHER IN THE WORLD!!!

Aku kembali ke Jogja.

Oiya, saya ceritakan juga dua minggu setelah saya pulang dari ayah saya, tepatnya tanggal 25 November lalu, ayah saya dikabarkan anfal dan dibawa di Rumah Sakit. 

Kebetulan saat itu abang saya masih di New Port, Amerika untuk tugas. Jadi saya berangkat sendiri ke Surabaya langsung menuju Rumah Sakit. 

Sampai sana Subuh, sekitar jam 5an. Rumah sakit masih begitu sepi dan hening. Masuklah saya ke kamar ayah saya. Beliau terbaring lemah, dan sangat berbeda dari kondisi dua minggu terakhir saya lihat. Kondisi ayah saya yang tangannya tertusuk infus dan selang masuk ke hidungnya. Saya salim, cium tangannya. Tak kuasa menbendung air mata. Lalu yang menjaga ayah saya bertanya kepada ayah saya, 

“Pak Heri, ini siapa?” 
Kata ayahku, “Mbuh”. (Mbuh dalam bahasa Jawa = Tidak tahu). 

Dari situ hati saya rasanya sakiiittt setengah mati, hancur sehancur-hancurnya. Entah mengapa perasaan maklum saya saat itu tidak mau tahu akan keadaan ayah saya dimana syaraf otaknya telah terganggu. Selupa-lupanya beliau selama ini, tidak pernah tidak tahu saya. Seperti biasa, saya sering bertanya tentang beliau pribadi, guna untuk merefresh dan menterapi ingatannya. 

“Pak, aku siapa?”
“Mbuh...”
“Pak, aku indri”
Ayahku diam.
“Siapa pak Indri?”
“Mbuh...”
“Bapak namanya siapa? Bapak siapa?”
“Pak Heri”
“Heri siapa?”
“Heri Subagyo”
“Terus anaknya pak Heri siapa?”
“Mbuh”
“Indri bapak ngga kenal?”
“Nggak”

(Disini saya mulai nangis)

“Bapak anaknya berapa?”
“Mbuh...”
“Indra siapa pak?
“Mbuh...”
“Indri bapak juga ngga tahu?”
“Mbuh...”
“Anaknya bapak siapa?”
“Arien.” (Arien adalah anak yang merawat ayah saya.)

Dari sini saya sudah stop untuk bertanya.

Karena saya rasa untuk apa. Mungkin karena kami berdua tidak pernah langsung merawat ayah kami. Jadi yang beliau ingat hanya yang merawat beliau. Wajar sih, bisa diterima. Tapi tetap saja sakit hati ini tidak terbendung lagi. Tapi saya terus menyuruhnya untuk berzikir dalam hatinya. Meskipun sudah tidak lagi ingat apa-apa, bahkan saya ataupun abang saya, yang notabene itu adalah anak kandungnya. Tapi semoga beliau terus menyebut nama ALLAH dalam hatinya.

Saat itu saya bawa perasaan, hati saya sakit. Padahal jelas ayah saya terganggu syaraf otaknya. Tapi kala itu saya tidak bisa menerimanya. Situasi dan kondisi disana sama sekali tidak ada yang mendukung saya ada disana. Keluarga yang menjaga ayahku bertatapan tidak bersahabat, dan seseorang yang saya tuju dan yang seharusnya membuat saya bertahan disana pun tidak mengenali saya. Lalu untuk apa saya disana?

Saya bertanya pada dokternya, (spesialis penyakit dalam, jantung, dan syaraf) dan ternyata ginjal ayah saya yang tadinya baik-baik saja sekarang ikut terserang. Kini penyakit ayah saya gula, tensi tinggi, jantung, syaraf, dan ginjal.

Saat yang menjaga ayah saya pergi, tinggal saya dan ayah saya di kamar. Dengan keadaan terbaring dan saya duduk disebelahnya, keluarlah semua "uneg-uneg" dan segala macam perasaan yang selama ini tertahan dalam hati saya, saya keluarkan semua.

Seolah saya bicara dengan ayah saya yang dulu, yang masih sangat sangat sehat, yang selalu memberi saya solusi disetiap langkah masalah yang saya miliki. Yang setia mendengarkan segala keluh kesah, lara dan bahagia. 

Saya bicara sambil menangis, seolah saya menyalahkan keadaan. Karena ini adalah resiko dari pilihan. 

Nangis terus, nangis, dan menangis. Dari semua itu, ayahku tanpa ada reaksi apapun. Bahkan ada satu pembicaraan yang sampai sekarang hanya saya dan ayah saya saja yang tahu. Kalau pada akhirnya pembicaraan itu benar terjadi secara nyata (amiin), kala itu ada malaikat yang mengamini. (Kita lihat nanti, suatu saat akan terungkap, apa pembicaraan itu?). Obrolan itu TRUE or FALSE? Jawabannya ada sama waktu.

Dari saya SMP hingga saya pisah dengan ayah saya dan beliau mulai sakit, saya selalu bercerita apapun dan siapapun yang sedang saya rasakan, atau sedang suka siapa, dan lain-lain. 

(Ada tulisan di blog ini beberapa waktu silam, tentang sebuah cerita kedekatan anak perempuan dan ayah kesayangannya : Aku rindu Ayahku )

Setelah rasanya semua tersampaikan, yang menjaga ayahku datang. Cepat saya usap air mata, dan sok tegar untuk beralih ke tempat tidur penunggu. Tidak lama, dia menghampiri ayahku, dan bicara, 
“Pak Heri kok nangis? Pak Heri kenapa?”

Dari situ saya langsung sigap melihat, benarkah ayahku menagis? IYA.

Yang menjaga bertanya, “Pak Heri kenapa dek? Kok nangis?”
Saya jawab, “Nggak tahu”

Baru saya berpikir, jadi apakah selama tadi saya bicara sebenarnya ayah saya mengerti. Tapi beliau tidak bisa membuat respon apa-apa? Apakah demikian?

Apapun itu, aku tetap mencintai ayahku dengan caraku.

Saya harus kembali ke Jogja. Dan sekiranya ayah saya membaik, dan kata dokter besok bisa boleh pulang. Dan sekarang sudah bisa ditinggal.

Desember 2015, 
Akhir tahun, penutup tahun yang seandainya bisa diubah, saya tidak mau ada bulan ini di tahun ini. 

Mengapa? 

Ayahku pergi untuk selamanya.

Berawal pada tanggal 7 Desember, saya pergi sama teman saya. Saat itu kami ada voucher gratis karaokean satu jam. Dan saat itu, blackberry (BB) saya biasa saja tidak ada kerusakan atau ngadat sama sekali. Sebelum saya pergi, saya charge BB saya. Biasa, tidak ada masalah. Sehingga saya bawa pergi dengan keadaan baik-baik saja. Ternyata sampai di tempat karaokean, saya keluarkan BB dan ternyata BB saya rusak seketika. LCD nya pecah. Saya coba cabut pasang battrai nya tetap saja layarnya nyala tapi hancur. Ada gambar pecahnya. Fix ini kena LCD nya. 

Kalau sudah begini mau diapain pasti tidak bisa. Bahkan katanya biaya servis dengan beli baru hampir sama. (Mungkin ini awal tapi agak kurang nyambung sama pembahasan yang mau saya ceritakan) BB onyx 1 hitam kesayangan saya, favorit, dan hadiah pemberian dari ayah saya di tahun 2010 lalu. Sampai saat ini, BB itu hanya pernah rusak sekali, itupun karena memori dan suka nge-jam. Tapi dengan mudah bisa diperbaiki. Sisanya tidak pernah. Berkali-kali banyak yang suruh jual, untuk ganti hp baru entah android atau apapun, saya tetap tidak mau. Karena hanya itu alasannya. Pemberian ayah, dengan berbagai syarat hehehe. Faktor kenangan.

Tanggal 12 Desember 2015, saya dan ibu saya pergi ke Surabaya untuk menjenguk ayah saya. Yang dikabarkan ayah saya KRITIS. Dan dibawa ke Rumah Sakit. Malam saya berangkat dari Jogja ke Surabaya.

Tanggal 13 Desember 2015, sampai Surabaya jam 4 pagi. Dijemput oleh abang saya, yang datang duluan dari jam 12 malam langsung Rumah Sakit. Kebetulan abang saya sudah pulang dari Amerika tanggal 7, laporan-laporan di Jakarta selesai sekitar tanggal 12, langsung terbang ke Surabaya untuk ayahku.

Ketika langit mulai terang, kami bertiga (saya, abangku, dan ibuku) ke ruangan ayahku. Ayahku sudah berada di ruangan ICU. Jam 5 sampai jam 6 kami masih tidak diperbolehkan masuk. Hingga sekitar jam 7an barulah petugas memanggil “Keluarga Bapak Heri”. Saya dan abang saya, langsung berdiri. Dan abang saya menyuruh ibu saya untuk menjenguk bersama dengan saya, karena malamnya dia sudah bertemu dulu dengan ayah saya. (Ruang ICU hanya bisa dimasukki dua orang saja). Saat ibu saya masuk, tiba-tiba si penjaga ayahku ikutan masuk. Jadi pas saya mau masuk, saya disuruh keluar oleh petugas.

Sebelumnya abang saya bilang, “dek, kamu harus ikhlas apapun yang terjadi. Bisikkan ke telinga bapak, kamu ikhlas. Ya?”
Saya hanya diam.

Akhirnya dia (si penjaga ayahku) sedikit tahu diri, keluar. Dan menyuruh aku masuk. Di ruangan, hanya ada ayah saya. Ibu, dan saya.

Kondisi ayahku selang dimana-mana, infus, oksigen, dan lain sebagainya.

Disitu saya menangiiiiiiis, disuruh ngebisik, saya nggak kuat. Hanya ada tangisan. Saat ibu saya yang bicara, saya menguatkan diri saya. Untuk bisa bicara. Dan saya bicara bahwa :

“Saya bangga punya ayah seperti bapak. Bapak adalah ayah terbaik yang pernah ada. Bapak harus ikhlas apapun yang terjadi, bapak harus sabar, bapak percaya sama Allah kalau ketentuan Allah pasti yang terbaik. Maafkan segala kesalahan Indri seumur hidup Indri. Maaf Indri nggak bisa merawat bapak secara langsung. Tapi indri selalu mendoakan bapak. Pak, indri ikhlas kalau memang ini ketentuan Allah. Kita harus percaya sama Allah.” Dan terakhir saya bicara, “kalau bapak harus pergi, Indri ikhlas.”

Tidak lama dari itu, abang saya masuk. Entah kenapa dia tidak disuruh keluar petugas karena lebih dari dua orang. Dan kita berempat berkumpul lengkap untuk sekian lamanya kita tidak pernah berkumpul. (Bapak, Ibu, Mas Indra, Dek Indri). 

“Pak, kita sekarang kumpul berempat. Inilah keluarga bapak. Keluarga kecil bapak. Semua sayang sama bapak. Maafkan kesalahan kami, dan kesalahan bapak apapun sudah kami maafkan.”

Kondisi bapak makin memburuk. Dan malamnya, pukul 20.00 bapak Ir. H. Heri Subagyo, MBA pulang ke Rahmatullah... Innalillahiwainnaillaihirojiun...


 
This is my family. I found it, all on my own. It's little, and broken, but still good. 
Yes, still very good. 


Selamat jalan bapak, ILOVEYOUSOMUCH! Goodbye super dad! Sampai ketemu, kita kumpul lagi di Surga Allah, Amiin.... Ya Allah, jagalah ayahku, ampuni segala kesalahannya, dan terimalah segala amal baiknya, dan berilah dia tempat terbaik di sisiMu, amiinn ....

Lalu apa hubungan ini dengan LCD BB kesayangan (sekaligus hadiah pemberian ayah saya) pecah? Biasa, namanya juga orang Jawa sukanya “nggathuk-nggathuk-e”. LCD saya pecah, ginjal ayah saya pecah. Saat tidak lagi bisa diperbaiki, ayah saya juga tidak lagi bisa diobati.

Inilah penutup tahun 2015. Yang luar biasa, dimana Allah sudah merindukan dan memanggil Ayahku untuk menghadapNya.

"Karena detik yang berlalu akan menjadi kenangan, jangan pernah meremehkan kebersamaan. Sebelum waktu mengajarimu arti sebuah kehilangan dan kamu hanya bisa menyalahkan keadaan." -INDRIANA-



Goodbye 2015, 
Goodbye super father, see you until we meet again in heaven. 
I'll be miss you, dad!
IR ;)