Laman

Jumat, 19 Agustus 2016

Ntah Sudah Berapa Purnama?

Mulanya aku marah pada keadaan, tamparan kenyataan yang lebih sakit dari apapun, kehilangan adalah satu hal yang tidak pernah aku inginkan. Terlebih jika aku harus kehilangan cinta sejati yang memiliki miliaran arti. Hari ini kutulis kembali narasi kerinduan, aku tak peduli mereka bilang apa, tapi lebih jelasnya inilah yang kurasakan.

Sudah beberapa purnama dia berpulang, dia kembali pada asalnya, sudah ribuan narasi rindu yang kutuliskan, tapi tak satupun kudapatkan balasan. Kini purnama kembali lagi, tapi di setiap sudut kulihat semuanya semu dan sama.

Tuhan… Apa kabarnya lelaki hebatku itu disana? Apa kabarnya sahabat sejatiku, teman segala teman yang mengerti kerasnya hatiku, tempat yang selalu kurindukan untuk mengadu.

Entah bagaimana aku akan menyatakan semuanya, yang jelas kerinduan ini sudah mencapai titik jenuh yang tak pernah kutemukan, tempatku kembali. Tuhan, semenjak kau jemput dia kembali ke rumahmu, kau sendiri tahu betapa aku hancur saat itu, hingga tak kukenal lagi siapa diriku, kucari pelarian dengan kebahagian orang-orang yang berada di sekitarku, tapi aku tak cukup pintar untuk mengenal mereka yang sesungguhnya. 

Hhhh…. bukan Pak, bukan bapak yang aku benci disini, tapi keadaan, keadaan dan mereka.

Mereka yang pintar memakai topeng berhati malaikat, anggap sajalah aku si bodoh yang percaya saat itu. Dan ketika semua kau tinggalkan, aku tertatih berdiri sendirian, menguatkan hatiku, menguatkan ibuku, ketika kepergianmu mengantarkanku pada perubahan kehidupan, disinilah aku mengenal siapa mereka sesungguhnya, bagaimana mereka dibalik topeng yang mereka pakai kenyataannya mereka tak sesuci yang kau kenal dulu.

Rasa-rasanya sekarang aku ingin berlari, kemana sajalah asal aku menemukanmu, ingin kujeritkan semua keluh ini, ingin kukatakan aku benci dengan mereka, aku benci keadaan ini. Ingin kulukiskan seberapa sulitnya semua ini, atau setidaknya aku tak perlu melakukan semua itu, aku hanya ingin kau dekap dan kau rasakan sakit yang kurasakan, bisakah hal sesimple itu kulakukan sekarang?

Sampaikanlah pada Tuhan, Pak. Bahwa aku tak meminta kau untuk kembali, atau menyesali takdirnya kini, tapi aku hanya meminta kekuatannya agar aku tetap berada di jalanNya, sehingga aku tak salah jalan lagi seperti awal kau tinggalkan aku disini.

Kepergianmu memang kusesali, tapi aku harus bangkit. Kerasnya hidup mengharuskan aku untuk lebih keras lagi, kau tahu akulah satu-satunya putri dan anak perempuan yang kau miliki, kurasa tak mudah menjadi seperti sekarang ini, semuanya berbanding terbalik, disaat dulu aku selalu kau dengar, dan kini aku harus menjadi pendengar, saat dulu aku yang selalu meminta, kini aku harus menjadi pemberi, disaat dulu aku adalah anak yang kau tanggung jawapi, kini aku harus menjadi penangung jawab diriku sendiri, disaat dulu aku mengadu, kini aku harus menjadi tempatnya mengadu, disaat dulu aku yang selalu kau dekap, kini aku yang harus mendekap.

Sekarang aku mulai terbiasa Pak, terbiasa dengan sakit, terbiasa dengan keras, kau yang mengajarkan, "Kalau hidup terasa keras maka kamu harus lebih keras lagi", Kunikmati semua kerinduan ini, tak kupedulikan mereka yang mencaci, mencoba menjatuhkan, menggoda bersama setan, merendahkan, bahkan harga diriku ikut terinjakkan, aku belajar diam darimu, diam dari semua yang kudengar, dan aku berusaha membuktikan pada mereka yang berkicau bahwa aku yang kecil ini suatu saat mampu menjadi besar! Seperti itu juga janji yang telah kuucapkan kemarin.

I wish heaven had a phone, so I could hear your voice one last time, dad...




Pak, sampaikan pada Tuhan. Aku butuh kekuatan ..
IR ;)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar