Laman

Minggu, 22 Januari 2017

Hello Sulawesi Part 2

Assalamualaikum, Hello Sulawesi Part 2
(Lanjutan dari Hello Sulawesi)

DUO RACUN GOES TO KENDARI (SOUTH EAST SULAWESI)

Selasa, 3 Januari 2017
Pesawat pukul 10.45 WITA, duo racun berangkat dari rumah sekitar jam 8.00 WITA. Setelah sebelumnya banyak per-cekcok-an rumah tangga, padahal hal sepele “tentang koper yang nggak muat”. 

Teman saya Waode si alayers dari Muna Barat itu terlalu gengsi untuk meminta bantuan beresin barang ke koper. Padahal sebelumnya setelah saya beres barang-barang saya masuk ke koper, saya cerita. “Ibuku kalau mau pergi-pergi pasti yang packing-in aku lay. Tinggal taruh barang-barang deket koper, aku yang masuk-masukin sampai beres.” Entah dia saat itu konsentrasi atas obrolan kita atau engga, pas punya saya sudah beres dan koper dia tidak bisa tertutup, dia bilang saya “Buta hati” nggak mau bantuin. Padahal kalau saja dia dari awal minta tolong masukin barang atau packing-in ke kopernya, semua beres sejak sejam yang lalu mungkin.

Dia ngeluh, “Gimana e lay, nggak cukup. Nggak bisa ketutup”. “Tadi nggak mau minta tolong”. “Ya kamu nggak bilang kalau mau bantuin”. Mohama. “Kan tadi aku udah cerita yang tentang ibuku kalau packing”. Terus dia diam. Saya pikir dia mampu. Jadinya gimana? Dia mau keluarkan semua, tapi kalau saya ulang dan tetap tidak bisa tertutup dia mau bunuh saya. Dyarwe. Mending cari amannya tidak usah ikut-ikutan, daripada nyawa taruhannya. Atau kan sebenarnya bisa aja dia titipkan barang ya, “banyak alasan kau” katanya.

GRAB car datang, setelah kita pamitan sama tante, om, dan saudara Waode disana. (GRAB car tanpa kode promo = mahal. Bye).

Tibalah, SULTAN HASANUDDIN INTERNATIONAL AIRPORT MAKASSAR.

Bandar Udara Internasional Sultan Hasanuddin Makassar.

Sekitar 8.45 WITA kita tiba di bandara. Dan itu ramai sekali. Mungkin karena tanggal 3 Januari, arus balik liburan tahun baru para travelers atau holidayers. Tapi masih ada satu traveler yang harusnya sudah kembali ke Jawa, tapi ini malah nyasar ke sisi lain pulau Sulawesi hehehe.

Mau check in aja, antrinya macam antri nonton konser Coldplay.

Mau nonton konser Coldplay. Eh check in.

Setelah check in, langsung ke boarding room. 

Checked in.

Kita check in ya check in aja jam 9.15 WITA, tidak perhatikan tiketnya jenis apa. Yang jelas nama, tanggal, jam, pesawat, sm tujuannya sudah benar semua.

Setelah satu jam-an lebih kita nunggu, akhirnya dipanggillah “Pesawat ‘Batik Air’ dengan nomor penerbangan bla bla bla jurusan Kendari, di pintu 5”. Habis ini ada kejadian ter-nggak-banget awal 2017.

Pas cek tiket untuk masuk gate 5, duo racun diperiksa, si mbaknya langsung ‘nembak’ banget bertanya. “Sedang berada dalam kondisi hamil?” OMAAAAA! Serentak saya dan alay ngakak depan mbaknya. Bukannya dijawab, tapi malah ngakak. Mungkin dipikiran mbaknya, ini dua anak manusia lagi stress apa ya. Mbaknya tidak tahu aja, dia lagi bertanya sama siapa? Duo racun. Langsung saya jawab, “Nggak mbak.” Ngibrit aja sambil ngakak. Alay disangka ibu hamil. HAHAHAHA.

Waiting...............jodoh! Pesawat ding wkwk.

Kondisi cuaca saat itu sedang hujan, dari boarding room ke pesawat agak jauh jadi harus naik bis dulu. Agak antri, tapi Alhamdulillah saya berhasil dapat tempat duduk. Masih banyak orang yang tidak kebagian tempat duduk, dan harus berdiri-beridiri. Dan ada suatu keadaan, si supir ini sembarang sekali.


Berhubung saya duduk paling depan, jadi saya agak tahu situasinya. Itu kan hujan, otomatis jalanan itu licin, padahal itu sepi (maksudnya jalanan lebar dan tidak ada kendaraan lawan lainnya) hanya ada pesawat behenti dan kendaraan yang mengangkut barang. Tapi si supir ini belok sembarangan, tidak kurangi kecepatan, tidak pula memikirkan orang-orang yang berdiri-berdiri itu.

“WOY. PAK. WOY. KO TIDAK LIHAT PAKAI MATA KAH. PELAN-PELAN, KO PIKIR BIS ATAU PETE PETE KAH INI???”. 

(Pete-pete = Angkot)

Apalah apa yang mereka teriakkan ke supir. Saya yang notabene tidak biasa mendengar umpatan khas Timur, sempat shock dengan perilaku penumpang yang mendadak takut itu. Tapi emang bener sih kalau diteriakin, maksudnya protes kali ya. Buat supir sembarangan. Dalam keadaan agak shock kita malah tertawa. “Tuh lay, ko lihat itu orang-orang Kendari keras lay.” Alay berbisik, hahahaha.


Sampailah kita di pesawat. Jelas. ‘Batik Air’, nomor dan jadwal penerbangan benar, tujuan Kendari.
Nomor seat teman saya 3A. Sementara saya 3C. Saya dan teman saya tadinya mikir bakal ada orang lain ditengah kita. Ternyata what?

Nomor seat 1,2,3 adalah bussiness class. 4,5,6,7 dan seterusnya economy class. Teman saya yang duluan ke arah seat, bingung.
“Lay, kenapa kelas bisnis seat no 3A dan 3C, sebelahan pula”. Saya juga bingung. Lho kok kelas bisnis sih? Tapi kita udah nahan ketawa banget, bisanya kita dapat seat di bussiness class. Si alay suruh saya tanya pramugrarinya, kebetulan saya belum masuk ke seat tersebut, masih habis cek tiket sama pramugarinya. “Lay, coba kamu tanya pramugarinya”. Saya yang masih agak takjub kenapa bisa bussiness class, nanya. “Mbak, seat 3A sama 3C dimana?” Mbaknya nunjukin, kursi-kursi kelas bisnis itu. “1,2,3 Alfa dan 3 Charlie” terakhir menunjuk seat yang sudah ditempati Waode.

“BINGO!” Kita kelas bisnis. WEKAWEKAWEKAWEKA.



Saya dan Waode, tidak ada henti-hentinya ngakak dan terheran-heran. Tapi ya mau gimana lagi, berarti ya memang kita beli bussiness class’s ticket. Pas sudah duduk, karena emang disitulah tempat duduk kami.

Eh si Alay dapat telpon dari saudaranya, yang pesenin tiket kita. “Heh Ape, (ape = nama kecilnya si Alay) kau dimana kah? Cepat, ini sudah ditelpon-telpon sama orang bandara. Dua orang belum masuk pesawatnya”. Sementara dua orang yang dimaksud pihak bandara itu adalah duo racun.

“Loh kak, saya dengan Indri sudah ada di dalam pesawat”. “Bener nggak pesawatnya? Tapi ini kalian dicari-cari pihak bandara nelfon saya, belum chek-in katanya. Pesawat sudah mau berangkat”. Tidak berpikiran apa-apa, bahkan saya juga belum tahu apa yang dibicarakan dia dengan saudaranya itu. Alay langsung pukul-pukul paha saya panik, “Lay, lay, lay, kita salah pesawat. Ayo turun cepet. Cepet turun!!”.

Ya saya tambah bingung. Dari yang ketakjuban saya tadi belum begitu hilang karena kelas bisnis, ditambah kepanikan Alay yang bilang kita salah pesawat. Hanya diam dan tenangin dia dulu. Tapi namanya juga Alay, kadang-kadang dia melakukan sesuatu diluar batas logika orang normal.

Dia sudah bergegas berdiri sambil pegang telpon dikupingnya yang masih tersambung dengan saudaranya. Saya tahan dulu, karena masih banyak arus orang masuk.
“Lay, tenang dulu kamu. Diem dulu bentar. Nggak mungkin kita salah pesawat. Kalau kita salah pesawat, dari gate 5 tadi kita udah ditolak nggak boleh masuk.”
Tapi dia tetap saja suruh ayo cepet turun.
“Bentar lay sabar dulu, ini masih banyak orang masuk”.

Saat dia bisa dikontrol, baru dia bicara. “Kata saudaraku, kita dicari-cari karena belum masuk pesawat, bahkan belum check in. Sedangkan pesawat kita harusnya sudah mau berangkat lay”.

What the.... “Iya ini juga kita mau take off ke Kendari, bener ‘Batik Air’ pula, nomor penerbangannya bener. Nanya pramugarinya juga bener kan tadi. Kalau salah pesawat pasti kita sekarang nggak ada seat”, Lama-lama mau gila saya.

Macam salah bis aja salah pesawat. Alaaaay alaaaaay hahahaduuh, I love you so much deh, what the way you are lay.....


BYE MAKASSAR! SEE YOU VERY VERY SOON! I WILL BE MISS YOU!!!!!

Diatas laut Sulawesi.

Tibalah, HALUOLEO AIRPORT KENDARI.


Welcome to KENDARI, Sulawesi Tenggara. Kota nya miss Alay 2017. Wa Ode Maiman Ondo, SH, (MH) aka. Wa Ape, Wa Ode, Ima, Alay, Sim, Syahrini, Princess, si Cantik, Elsa, dll.

Saya masih tidak bisa percaya setelah Makassar, saya singgah juga ke Kendari. Hwaaa! Alhamdulillah masih diberi kenikmatan bisa jalan-jalan silahturahmi kemana-mana. Pulau yang belum pernah saya injak. For the first time in forever hehehe. Kemarin Sulawesi Selatan, sekarang Sulawesi Tenggara. Lama-lama naik terus naik terus ke Manado nih Sulawesi Utara HAHAHAHA (ngarep.com).

Naik taksi, berhubung tidak ada sejenis taksi online. Nyari-nyari disemua aplikasi yang saya miliki, dari UBER, GRAB, GOCAR sekalipun memang tidak ada. Sudah dibilang sih sama si Alay, tapi tetap saja kalau belum buktikan sendiri belum puas. (Indriana). Hahaha. At least, harus usaha dulu.

Setelah sekian banyak taksi bandara ditolak, dan lebih memilih taksi langganannya. Jadi kita menunggu sekitar 20-30 menitan. Lumayan sih. Sambil menunggu, saya sibuk mencari aqua biar fokus, haha enggak lah, karena saya haus. Bandara disana jauh berbeda dengan bandara di Makassar. Beda pula seperti di Jogja. Jogja yang notabene bandaranya juga kecil, tapi karena bandara Internasional jadi terlihat seperti bandara. Kalau ini? Bagus kok. Kalau di Jogja mungkin lebih seperti terminal Giwangan. Hahahaha. Maaf maaf, just kidding.


Datanglah taksi yang ditunggu-tunggu.

Diperjalanan, pak Oscar si tukang taksi. Dia super ramah, ramah ala orang Timur begitu. Seru diajakin ngobrol. Kasih tahu spot-spot terkenal di Kendari. Dan pada akhirnya, dia beritahu mitos disana.
“Mbaknya ini dari Jawa?”
“Iya pak, teman kuliah saya dulu ini dari Jogja” Kata Alay.
“Selamat datang deh di Kendari. Hati-hati ya mbak kalau sudah sampai disini”
Saya shock “Hah? Kenapa deh pak? Pake hati-hati segala haha”.
Bapaknya sambil tertawa, “Iya mbak, kalau sudah disini, nanti kalau mbaknya udah minum air Kendari, nanti pasti kembali lagi kesini lho...”
Langsung kita di mobil ribut ngakak. “Hati-hati laay kamu hahahaha”.

Namanya juga mitos kan, bisa percaya bisa tidak percaya. Kalau balik lagi ya berarti bisa jalan-jalan lagi kesini, ye kan? (Si Indri otaknya jalan-jalan mulu) HAHAHA.


Kota Kendari. Memang beda sama Makassar. Kalau Makassar dia sudah metropolitan, sudah hampir seperti Jakarta atau Surabaya yang macet dimana-mana, mall juga sudah banyak. Sementara Kendari masih tidak terlalu ramai, bahkan mall satu-satunya hanya Lippo Mall. Ungkap Pak Oscar dan Alay.

Jalannya besar, tapi mobilnya jarang. Jadi gimana mau macet? Asik sih, tenang disini, tapi panasnya Naudzubillah. Panasnya terik bukan yang gerah gitu, jadi bisa banget bikin hitam kulit.

Sampailah kita di rumah sang penguasa Sulawesi Tenggara.

Bertemu Wa Kala, saya tidak terlalu asing dengan beliau. Dia adalah International’s chef handal di rumah Alay. Masakannya super enak. Kenapa tidak asing? Iya, karena setiap saya dengan Waode video call, alay sering kasih lihat Wa Kala, kasih lihat keadaan di rumahnya. Jadi pas saya sampai kesana, seperti tidak asing dengan itu.

Bertemulah dengan kakaknya Waode yang ketiga, La Anas, ngobrol-ngobrol. Tidak lama kemudian, kakaknya yang pertama, La Ongko datang. Yang saya bilang debat tidak pernah kalah. Alhamdulillah disambut baik sama semua. Salamanlah saya dengan La Ongko, “Akhirnya Indri sampai Kendari juga kan, kemarin sempet ribut” Katanya. “Iyaa, Alhamdulillah”. Ehehe. 

(La = Panggilan untuk laki-laki. Wa = Panggilan untuk perempuan).
Kalau di Jawa mungkin Mas dengan Mbak.

Pas kakak Ongko datang, posisi saya sedang makan. Cepat-cepat saya cuci tangan, dan salaman. Belum sempat ngobrol banyak, beliau langsung ajakin saya dan adik kesayangannya yang alay itu, dan semua ke pantai. Awalnya alay tidak mau karena jam 7 malam dia ada kuliah. Tapi kata kakaknya, Maghrib sudah tiba di rumah. Akhirnya kita semua ikut.

Sampailah kita semua di Pantai Toronipa, Kendari, Sulawesi Tenggara.

Welcome to Toronipa beach, Indriana!

Duo racun in KENDARI............

Donat boat.

Naik donat boat, candid asli. Hahaha

(Saya - Waode - Ayla - Anas)

Formasi belakang kanan. 

Formasi belakang kiri.

Di depan villa Gubernur Sulawesi Tenggara. Jual view, langsung pantai.
(Doni - Saya - Ayla - Anas)

Kalaunya ada yang ambil gambar dibalik foto ini bakal konyol. Yang memfoto yang punya ATV ini, pakai kostum lengkap dan helmnya. Tapi ngefotoin orang-orang di ATV nya. WKWKWK.
(La Ongko - Ayla - Saya - Waode - Doni - Anas - Alfero)
Nb. Ayla dan Alfero anaknya gubernur Sultra. 
(Jangan tanya kenapa bisa dengan mereka, karena saya juga bingung. HAHAHAHA)

Keesokannya, saya menghabiskan waktu di rumah dan jalan-jalan naik motor kopling (sok bisa). Padahal ternyata si alay bisa, dan sangat handal pakai motor kopling. (Indri = butiran debu).

 Maaf, jilbab ukhti lagi dimana? :(

Jual : Narkoba, Miras, Senjata Api, Bom, Bahan Kimia.
Ada yang berani obrak-abrik toko ini? Silakan.

Jalanan di Kendari, bikin kangen.

Calon istri sholehah, siap menikah, sedang berbelanja sayuran untuk buat Indomie. What?

Tiba akhirnya masa liburan saya habis.


Harusnya saya kembali tanggal 5 Januari 2017, mundur karena suatu alasan. Akhirnya dapatlah tiket Kendari – Surabaya untuk tanggal 6 Januari 2017. (La Ongko tidak jadi ke Jawa saat itu, jadi saya pulang sendiri). 

Kenapa tidak langsung ke Jogja? Its too much expensive, bedanya bisa 500k sendiri. Jadi mending saya potong-potong aja ke Surabaya dulu. Nanti dari Surabaya ke Joga nya naik bis atau kereta gampang. Asal sudah di Jawa, mau turun di Jakarta, Bandung, Surabaya, Semarang, mah oke-oke aja. Malu dong kalau tidak berani, tapi menyandang gelar traveler sejati. (Emang siapa yang nyematin gelar itu deh?) Ndrik ndrik...


Malam tanggal 5 Januari 2017, dimana itu adalah malam terakhir duo racun, sahabat sejati, dua sayap yang sebentar lagi akan terpisah jarak dan waktu lagi. (Soundtrack: Is if, this is my last night with yoooou – All I ask by Adele). Sudah abaikan.

Alay ngediamin saya dong. Karena suatu kesalahpahaman.

Jadi, tadi sore saya sempat ajakin Waode untuk cari oleh-oleh.“Iya, nanti malam sekalian jalan sama Doni juga aja. Diantar sama Doni, soalnya aku nggak tahu dimana tempat oleh-olehnya”. 

Lalu jam 7.00 WITA, kakak Ongko datang bersama Doni. La Ongko menemui saya yang sedang asyik ngobrol dengan Waode dan Wa Kala di dapur. Akhirnya beliau negur saya dan alay, intinya suruh cerita-cerita masuk kedalam. Jangan di dapur.
(Itu udah jelas kan perintahnya. Hanya masuk kedalam). 

Lalu Waode ajak Doni, “Don, ayo kita keluar cari oleh-oleh Indri”.
Sementara tiba-tiba kakak Ongko manggil Doni, “Ayo Don, siap-siap. Sebentar kita pergi”.

Doni ke kamar Waode lagi suruh kami (saya dan alay) siap-siap.

Nah kan, kenapa kita yang disuruh siap-siap? Bukannya tadi Doni yang disuruh siap-siap karena kakak Ongko mau pergi? Lalu Waode minta penjelasan ke Doni, “Siapa kah yang disuruh siap-siap?”.

Kata Doni, “Ya kalian. Katanya mau keluar cari oleh-oleh”.

SALAH. DISINI LETAK KESALAHPAHAMANNYA.

Jelas-jelas tadi La Ongko suruh Doni siap-siap karena mereka berdua mau pergi lagi. Tiba-tiba Doni suruh kita siap-siap juga. Janggal nggak? Waode tanya lagi ke La Ongko, “Kakak suruh saya apa tadi?”. “Suruh masuk kedalam, cerita dengan Wa Indri di dalam”. FIX KAN?

Terus Doni tiba-tiba bilang, “Kalian berdua siap-siap saja, mau nanti nggak ada mobil pun pasti nanti dicarikan jalan lain. Paling dipanggilin taksi”. Apa tidak lebih konyol? Sudah malam, naik taksi, hanya duo racun yang pergi. Sementara Waode bilang dia tidak tahu dimana yang jual oleh-oleh. Doni yang tahu. Sedangkan ini Doni aja mau diajak pergi La Ongko. Tapi Doni tetap menyuruh kita siap-siap? Jelas nggak akan pergi sama Doni kan?

(By the way ya, saya nulis cerita yang ini agak dongkol juga, gregetan hahaha. Jadi sebenarnya agak terlihat sih yang membuat benang kusut. Tapi tetap pada kepercayaan masing-masing).

Akhirnya Waode suruh saya siap-siap, tapi saya tidak mau. Sudah jelas kan alasan saya kenapa jadi tidak mau. Mereka bilang La Ongko tadi suruh kita berdua siap-siap? Jelas-jelas Doni yang disuruh siap-siap. Kalau kita berdua disuruhnya masuk kedalam, "cerita didalam jangan di dapur". Its too simple, right? Tapi menurut kepercayaan mereka (Alay dan Doni) saya yang salah. Sedih.

Saya merasa kepojok. Waode bercerita di kamar dengan temannya Doni, Arzad. Tiap saya masuk kamar, saya seperti dikacangin, dicuekin, mereka sedang asyik ngobrol bercerita seru, sementara saya tidak mengerti dengan apa yang mereka bicarakan. Saya keluar masuk kamar bingung mau apa. 

Di kamar ada Waode dengan temannya, di ruang tamu ada La Ongko dengan teman-temannya. Lalu saya? Saya hanya seonggok lemak yang banyak dosa, seonggok lemak yang keras kepala. Mau bikin apa saya saat itu? Akhirnya saya menghabiskan malam terakhir itu di dapur, bercerita sama Wa Kala.

Sampai pada akhirnya La Anas datang samperin saya, “Indri kenapa tidak mau keluar?”

Sebelumnya, Anas ke kamar Waode tanya sama adiknya, “Kenapa tidak jadi keluar kah? Katanya tadi mau keluar ini malam?”. Langsung dijawab singkat sm Waode, “Wa Indri tidak mau dia keluar.” Nada cuek terkesan agak kesal sama saya. (Terdengar dari dapur).

Akhirnya baru saya berani ke kamar Waode bersama Anas, setelah Anas bertanya sama saya, saya berusaha untuk menjelaskan semuanya. Sebenarnya mungkin kalaupun Doni tidak bisa antar, Anas yang akan antar. Tapi tadi kan bilangnya Doni yang mau keluar sama kita. Kalau saya tahu ada Anas yang lagi selow bisa antar, daritadi juga berangkat. La Anas juga entah darimana, dia baru muncul. Saat per-cekcok-an berlangsung Anas tidak ada ditempat. Hanya saya, Waode, dan Doni.

Itu sudah jam 8.15 WITA. Sebenarnya toko oleh-oleh masih buka dan ternyata bisa diantar Anas. 
Indri (I) : Oh yaudah, ayok lay kalau gitu. Ayo ganti baju, berangkat deh.  
Waode (W) : (Langsung dengan ketusnya alay jawab) Nggak mau, aku sudah malas. 
I : Ayo to lay, maaf tadi aku yang salah. Aku nggak paham tadi, kan tadi bilangnya kita sama Doni. Kalau Doni nggak bisa, ya kamu juga nggak tahu tokonya, gimana? 
W : Yaudah, nggak usah. Nggak usah pergi.

Anas juga suruh Waode siap-siap sekarang berangkat, dia yang antar. Tapi tetap saja dia tidak mau. 
“Itulah lay, kalau punya kepala jangan keras-keras. Nggak mau dengar kata orang”. 
Ok, Indriana salah. Saya salah. Saya nggak mau nurut aja. Tapi padahal sudah jelas, kan? Tapi yaudah, balik lagi, aku hanya seonggok lemak yang banyak dosa dan keras kepala. Salahku. Ini nggak jadi keluar karena salahku. Malam terakhir di Kendari, mau diajak alay keluar saya yang tidak mau. OKAY. Saya salah.

Akhirnya ditengahin Anas, “Ya sudah begini saja, besok pagi-pagi Doni datang kesini bawa mobil La Ongko. Pergi mi cari oleh-oleh dulu sebelum Indri berangkat ke Bandara. Ini mobil juga mau dibawa pergi sama Doni dan La Ongko, sudah jam 8.15 lebih, kalaupun pergi waktunya juga mepet”. Saya, Waode, dan Doni diam dan setuju dengan ide Anas.

Tapi kondisi saat itu agak kurang tidak bersahabat antara saya dengan Waode. Antara Waode yang agak kesal sama saya karena tidak jadi keluar, dan saya yang merasa bersalah karena terlalu keras kepala. (Tapi tetap aja, semuanya sudah jelas. Semua benar menurut keyakinannya masing-masing). Sekali lagi, saya minta maaf ya alay. Reader tetap bisa menilai siapa yang benar atau salah sih. Saya kah? Atau doni sekalipun? Atau al........ Saya. Iya saya. Saya yang salah. Bukan siapa-siapa.

Case closed.

Akhirnya ntah jam berapa, malam itu suasana bisa clear lagi. Sudah bisa ngobrol lagi antara aku dengan alay. Dan masih ada Arzad juga, jadi saya sempat ikut ngobrol ketawa-ketawa sempat gosip juga kalau tidak salah.

Jumat, 6 Januari 2017
Tibalah waktu perpisahan nyata antara duo racun. Saya dan Waode harus terpisah lagi jarak dan waktu. Selama seminggu lebih saya kumpul terus dengan dia, sebentar lagi akan telponan, line-an, video call-an, perang-perangan di facebook, lagi. Kembali ke aktivitas semula, back to reality. Sedih sih, tapi air mata masih tertahan. Semacam nyesek gitu kali ya.

Setelah berpamitan dengan orang rumah, Wa Kala dan La Anas. Saya, Waode, dan Doni pergi meninggalkan rumah penguasa Sulawesi Tenggara itu. Kebetulan La Ongko saat itu sedang berada di hotel, jadi otomatis saya harus kesana untuk berpamitan.

(Doni - Waode - Saya)

Sudah berpamitan dengan semua, otw lah kita ke Bandara. Sembari ke bandara, saya dilewatkan “Kebi” Kendari Beach. Singgah sebentar. 

KEBI Kendari Beach.
Kendari water sport.

Siapakah sosok Barcelona di belakang saya? Neymar? Messi? Luis Suarez?

Setelah singgah di Kebi, sempat mutar ke MTQ, yang kata Doni itu merupakan Monas nya Jakarta. Karena tugu MTQ sedang di renovasi jadi saya tidak sempat ambil banyak gambar disana. 

Tugu Realigi Sulawesi Tenggara.

Setelah dari MTQ langsung cus ke bandara. Sesampai di bandara tepat jam 11.45 WITA, tiket saya 12.45 WITA. Setelah check in, saya keluar lagi menemui dua sejoli itu. Sekalian berpamitan. Disini saya sudah tidak bisa lagi tertawa, rasanya sedih, galau, seperti belum selesai saja semuanya. Yang namanya perpisahan mau bagaimanapun itu pasti menyisakan luka yang cukup mendalam. Meskipun banyak petengkaran, keributan, kekeselan, antara saya dengan sahabat saya yang satu itu. Tetap saja saat saya akan pergi, saya sedih. Rasanya pengen nangis, tapi semua ketahan mungkin malu kali ya nangis depan orang. Akhirnya berpisahlah dua sayap dalam satu tubuh ini.:(

Selamat berpisah duo racun.
(Indriana, SH dan Waode Maiman, SH (sebentar lagi MH) )

Saat saya sudah masuk di boarding room, saya teringat semuanyanya. Flashback. Kemarin, in the first time saya menginjakkan kaki di Kendari datang kesini, happy, excited, berdua sama alay. Sekarang? Beda banget semuanya. Saya menunggu flight ke Surabaya, duduk sendiri, sedih, lihat semua sudut bandara yang awal datang kesini apa-apa sama alay. Sekarang I’m alone and lonely.


Checked in.

Dimana ada pertemuan pasti ada perpisahan. Tapi ingat, setelah ada perpisahan pasti akan ada pertemuan yang diharapkan kembali. Pisahan sama teman, sahabat, dan saudara perempuan satu-satunya ini ngalahin pisahan sama pacar. Lebih sedih, lebih baper, lebih galau, lebih lebih lebih nggak enak deh.

Inshaa Allah kita bisa ketemu lagi ya, lay! See you soon, sukses selalu. Mudah-mudahan dipertemuan berikutnya keadaan kita harus lebih baik dari hari ini. I will miss you, alay!

Tidak kuat nahan perasaan, saya langsung video call Waode. Pas diangkat, dia sudah di mobil perjalanan pulang. Saat pertama lihat wajahnya di layar hp, langsung pecah suasananya. Air mata saya akhirnya jatuh. Sudah tidak bisa menahan. Alaaaaaaaaaay :( :( :( :( :( 

Masih kangen. Masih belum selesai. Masih pengen kumpul. Masih pengen bareng-bareng.
But life must go on, Indriana and alay....

Saya tidak menikmati perjalanan. (Re: Tidur).
Suasana hati lagi tidak kondusif, seat juga tidak strategis. Akhirnya, selama sekitar 1 jam 50 menit saya tidur.

Tibalah saya di DJUANDA INTERNATIONAL AIRPORT SURABAYA. 

Welcome back Java island!

Sekitar jam 14.00 WIB. Posisi saya masih sama sekali belum bisa move on dari Sulawesi. Sampai Surabaya, Jawa Timur yang merupakan kota kelahiran pun malah aneh, mungkin karena sudah agak terbiasa dengan logat dan nada bahasa yang keras dan agak tinggi khas Timur ya, jadi sesampainya di Jawa agak bingung menyeseuaikan lagi. Panggilan jadi mbak lagi, sudah tidak ada yang panggil "Wa Indri" hahaha.

Sesampainya di Surabaya, saya dijemput sama teman saat SMA dulu. Kebetulan dia lagi santai, dan bisa menjemput saya di bandara sekalian makan siang. Jalan sampai malam, dan diantarlah saya di terminal sekitar jam 22.00 WIB. Karena memang ngepasin waktu pagi sampai Jogja, jadi dari Surabaya harus malam.

Perjalanan darat dari Surabaya menuju Jogja.

Pagi hari sekitar jam 5.00 WITA, the finally of my trip. Jogjakarta, again.
Sampai rumah, saya bongkar-bongkar koper kemudian ngobrol-ngobrol sebentar dengan ibu saya. Dan I’m so sleepy and tired. Dan masih dalam suasana belum move on total. Tidurlah saya pagi itu.

Ketika jam menunjukkan waktu pada pukul 11.00 WIB, terbangun dalam keadaan sedih. Sedih, bingung, not too good, baper, galau. Mungkin ini adalah fase denial, dimana sebelum ini saya mengalami kejadian yang menyenangkan, ramai, happy, melupakan hal-hal yang buruk, dan melakukan hal lainnya tentang hal yang menyenangkan.

Sementara saat ini saya terbangun dalam kondisi di rumah, sepi, sendirian, tidak ada lagi teman disamping saya, dan harus menghadapi kondisi dan situasi semula. Back to reality. Melihat baju-baju kotor diluar koper, ingat besok harus kerja lagi, dan setelah tersadar total.

Holiday is over.

Video call-lah saya dengan si alay, dengan menceritakan semua hal setelah saya pergi dari Kendari tadi. Alay yang sebelumnya cerita, siang sepulang dia mengantar saya ke bandara, dia ke kamar dan tertidur. Bangun-bangun, dia berpikir tentang saya. “Indri”. Baru saat dia benar-benar sadar, Indri sudah pulang. Indri sudah tidak ada lagi disini. Terus dia telpon dan line-an dengan saya, yang saya saat itu sedang berada di Surabaya. Saya masih santai merespon, “Udah lay cepatlah move on. Sudah selesai liburannya, selamat beraktivitas kembali seperti sebelumnya. Dan semangat kuliah lagi.”

 Kembali seperti semula.

Wa Kala!

Dan ternyata, saat ini saya baru benar-benar mengerti bagaimana perasaan alay saat itu. Sedih, bingung, sepi, sendiri, pasca perpisahan itu memang tidak enak. Video call lagi, telponan lagi, kembali seperti semula.

Pada akhirnya kita hanya bisa bercerita dan mengenang saat-saat liburan terindah awal 2017. Bahkan sampai sekarang, dimana saya juga sudah masuk kerja lagi, alay sudah masuk kuliah lagi, sudah sama-sama move on, tapi kalau tiba-tiba pas telpon atau line-an ngebahas holidays’s duo racun, langsung berdua baper, berdua gagal move on, hahahaha.

Mudah-mudahan persahabatan kita tidak boleh hanya sampai sini saja ya lay. Sampai nanti, sampai kapanpun, bahkan sampai kita semua masing-masing nikah, sampai punya anak, punya cucu, kita harus tetap seperti ini.

Hingga kelak datang sebuah hari yang membuat kita tidak bisa bersama-sama lagi. Simpan aku dalam hatimu, dan aku akan berada disana selamanya. -INDRIANA.

Life must go on.

Cek video nya : Together :)


Love you my sister from another mother,
IR ;)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar